
Di usianya yang baru 8 tahun, Nia sudah harus hidup penuh perjuangan layaknya orang-orang dewasa. Ayahnya sudah meninggal, sementara Ibunya sedang sakit. Setiap hari Nia harus berangkat sekolah sambil membawa dagangan keripiknya. Bukan demi kaya atau demi mendapat kasihan, namun demi bisa membeli makan, obat Ibunya, dan demi sekolah.

Setiap hari saat berangkat sekolah, Nia tidak hanya membawa tas sekolahnya saja. Namun juga membawa keranjang keripik yang nantinya ia jual sambil bersekolah. Setiap keripik yang laku, menjadi harapan bagi Nia untuk bisa melanjutkan sekolahnya, dan membeli obat untuk Ibunya.

Sedihnya, keripiknya pun sering tidak laku. Bahkan Nia juga dijauhi, diejek, bahkan dibully teman-temannya karena kondisinya. Padahal mereka tidak tahu sebagaimana beratnya perjuangan yang harus Nia lakukan di usianya yang masih sangat kecil.
Tak jarang, Nia harus berjualan sampai sore atau malam hari. Tubuh mungilnya seringkali tidak kuat untuk melangkah. Namun ia tidak punya pilihan lain demi mendapat sesuap nasi untuk mengisi perutnya yang kosong.

Seharian berkelilingpun hasil yang didapat Nia juga sangat tidak menentu. Paling banyak Nia hanya mendapat 30 saja. Harus ia hemat-hemat demi bisa mencukupi kebutuhannya dan kebutuhan Ibunya.
Terkadang, Nia datang ke makam Ayahnya yang tak jauh dari rumah. Ia selalu menangis, mengadukan kerinduannya kepada sang Ayah. Menumpahkan segala rasa lelahnya harus berjuang di usia kecilnya.

Di dalam lubuk hati yang terdalam, Nia iri kepada teman-temannya yang bisa memiliki seragam, tas, ataupun sepatu baru. Sedangkan Nia hanya punya tas peninggalan yang dulu dibelikan sang Ayah.
***
Kak, sejak kecil Nia sudah harus berjuang sendirian demi bisa bertahan dan melanjutkan sekolahnya. Maukah sama-sama kita bantu dan temani Nia agar bisa hidup layak dan bisa terus merawat Ibunya dan melanjutkan sekolahnya? Dengan cara:
![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik